Mudik dengan Kereta: Jejak Kenangan di Rel Waktu
Aroma pagi itu masih melekat dalam ingatan, seolah menjadi fragmen kecil yang tak terhapus oleh waktu. Udara dingin menjelang subuh menyelinap lembut di antara celah-celah jendela rumah, menghadirkan ketenangan yang kontras dengan gelombang kegembiraan di dalam dada. Mata masih berat oleh kantuk, tetapi tubuh sudah bersiap untuk ritual tahunan yang penuh makna: perjalanan pulang ke Bandung saat Lebaran. Kami menyebutnya ‘pulang kampung’, meskipun secara geografis, Tangerang tempat tinggalku kala itu lebih menyerupai perdesaan dibandingkan Bandung di era 1980-an. Namun, Bandung tetaplah rumah, tanah leluhur, tempat di mana keluarga besar berkumpul dalam harmoni yang hanya bisa ditemukan di hari raya.
Perjalanan ini dimulai sejak dini hari. Usai salat subuh, aku dan keluarga bergegas menuju jalan raya, menanti angkot 02 yang akan membawa kami ke Stasiun Tangerang. Kota masih terlelap dalam sisa gelap malam, hanya ditemani pendar lampu jalan dan suara kendaraan yang melintas sesekali. Angkot tua itu melaju perlahan, lampu sen yang berkedip-kedip menciptakan suasana yang sulit dilukiskan, sebuah nostalgia yang kelak akan terasa begitu istimewa. Ada sesuatu yang unik dalam kesederhanaan perjalanan ini, sesuatu yang tak bisa digantikan oleh kenyamanan transportasi modern.
Stasiun Tangerang saat itu masih kental dengan arsitektur kolonial. Bangunannya kecil tetapi kokoh, dengan gerbang kayu jati berwarna abu dan tembok bercat kapur yang menjadi ciri khas era lampau. Tiket masih berupa karton tebal yang nantinya akan dilubangi oleh petugas. Perjalanan pertama adalah menuju Stasiun Beos, Jakarta Kota, dengan kereta yang berangkat pukul enam pagi. Saat tiba di Beos sekitar pukul tujuh, aku selalu merasa kecil di hadapan kemegahannya. Lengkungan atapnya yang tinggi memberikan nuansa monumental, dihiasi burung-burung gereja atau mungkin walet yang beterbangan di langit-langitnya. Stasiun ini bukan sekadar titik transit, melainkan pintu gerbang menuju perjalanan yang lebih panjang.
Kereta ekonomi menuju Bandung berangkat sekitar pukul sembilan. Tidak ada sistem penomoran tempat duduk, sehingga penumpang harus bergerak cepat untuk mendapatkan posisi terbaik. Pada musim Lebaran, ini berarti perlombaan kecil untuk mengamankan tempat duduk, terutama di dekat jendela. Gerbong ekonomi kala itu memiliki kursi berbahan kulit yang telah lapuk, kipas angin kecil yang berputar malas, serta meja lipat kecil di depan kursi, tempat favoritku untuk menyandarkan lengan dan menikmati pemandangan yang tersaji di luar jendela.
Selepas Cipinang, Jakarta, dengan jalan lurusnya, aku selalu merasa seperti berlomba dengan kendaraan lain, ada perasaan menang balapan setiap kali kereta melaju lebih cepat. Memasuki Bekasi dan Karawang, dulu masih berupa hamparan sawah yang luas, hanya sesekali terlihat bangunan tempat pembuat bata yang berdiri di tengah kehijauan. Suasananya masih asri, jauh dari hiruk-pikuk industri seperti sekarang.
Salah satu bagian perjalanan yang paling kutunggu adalah pengalaman kuliner di dalam kereta. Teh yang disajikan di gerbong makanan memiliki aroma yang khas, pekat dan hangat, seolah menjadi teman terbaik dalam perjalanan panjang ini. Nasi goreng menjadi pilihan utama, tetapi menu yang paling istimewa adalah bistik, hidangan yang terasa begitu mewah dalam keterbatasan ruang dan fasilitas. Sementara itu, suara roda besi yang berpadu dengan rel membentuk simfoni khas, bersahut-sahutan dengan panggilan pedagang asongan yang menawarkan dagangannya di antara kepadatan penumpang.
Perjalanan menuju Bandung bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan juga pengalaman multisensorial yang begitu berkesan. Begitu kereta memasuki daerah Priangan selepas Purwakarta, udara berubah drastis. Aku senang menyelonjorkan tangan keluar jendela, merasakan kesegaran angin pegunungan yang berbeda dengan panasnya Jakarta. Terowongan Sasaksaat selalu menjadi bagian yang paling kutunggu. Saat kereta melesat masuk, seketika kegelapan menyelimuti gerbong, hanya menyisakan suara roda yang beradu dengan rel dan bisikan kagum penumpang. Momen ini singkat, tetapi selalu berhasil menciptakan sensasi yang sulit dilupakan. Begitu keluar dari terowongan, pemandangan hijau pegunungan menyambut dengan keindahan yang hampir surealis.
Memasuki Bandung, nuansa kota mulai terasa. Barak-barak militer di Cimahi menjadi penanda bahwa perjalanan hampir usai. Plat nomor kendaraan berganti menjadi D, simbol bahwa kami telah kembali ke tanah kelahiran. Stasiun Bandung saat itu masih sederhana, jauh sebelum kemewahan pusat oleh-oleh seperti Kartika Sari hadir. Biasanya, seorang paman sudah menunggu kami di peron, memberikan sentuhan kehangatan terakhir dari perjalanan yang penuh kenangan ini.
Namun, di balik keindahannya, perjalanan ini juga memiliki tantangan tersendiri. Rel masih satu jalur, sehingga kereta ekonomi sering kali harus berhenti di stasiun kecil untuk memberi jalan bagi kereta dengan kasta lebih tinggi. Meski jaraknya masih jauh, kami tetap harus menunggu giliran melintas. Waktu tempuh dari Jakarta Kota ke Bandung bisa mencapai lima jam atau lebih, tetapi tetap saja, dibandingkan alternatif lain, naik opelet ke Jakarta atau bus dari Cililitan yang hampir pasti membuatku mabuk darat, kereta adalah pilihan yang paling rasional dan nyaman.
Kini, perjalanan ke Bandung telah mengalami transformasi besar. PT Kereta Api Indonesia (PT KAI ) menawarkan kenyamanan yang tak terbantahkan: kursi yang lebih ergonomis, pendingin udara, dan sistem pemesanan tempat duduk yang lebih tertata. Tak ada lagi ketegangan saat berebut kursi, tak ada lagi kipas angin tua yang berputar dengan suara berderit. Namun, di tengah semua efisiensi ini, ada sesuatu yang terasa hilang, sebuah romantisme perjalanan yang dulu begitu khas. Barangkali, bukan hanya kenyamanan fisik yang kita cari dalam sebuah perjalanan, tetapi juga pengalaman, cerita, dan keterikatan emosional yang melekat dalam setiap langkahnya.
Meskipun begitu, satu hal tetap sama: mudik dengan kereta api bukan sekadar perjalanan kembali ke kampung halaman, tetapi juga sebuah ritual yang membawa serta kenangan, harapan, dan kebahagiaan yang tak ternilai. PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) telah berevolusi menjadi PT KAI, tetapi esensi perjalanan tetaplah sama: sebuah kisah yang terus hidup dalam kenangan.