Cerita Dedi Mulyadi Shalat Id Sebagai Gubernur Jabar di Gasibu Bandung
BANDUNG, KOMPAS.com – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menunaikan shalat Id di Lapangan Gasibu, Senin (31/3/2025) bersama warga Kota Bandung.
Dedi mengaku, ini adalah momen pertama bagi dirinya melaksanakan shalat id di Kota Bandung. Sebelumnya, ia melaksanakannya di Kabupaten Purwakarta atau Kabupaten Subang.
Baca juga: Dedi Mulyadi Tegas Tindak Kades Minta THR Rp 165 Juta: Sama Kayak Preman Bekasi
“Ini lebaran pertama saya di Gasibu, biasanya lebarannya di Alun-alun Kian Santang Purwakarta atau di halaman rumah saya. Artinya ini adalah lebaran pertama yang dilaksanakan bersama warga Kota Bandung,” ujarnya kepada awak media usia melaksanakan shalat id.
Dia terkejut, jamaah yang melaksanakan shalat id bersama dirinya bukan hanya warga Kota Bandung saja, tetapi ada juga yang berasal dari daerah lain di Jabar.
Bahkan, kata Dedi, ada juga jamaah yang berasal dari luar Pulau Jawa seperti Lampung dan Kalimatan yang sengaja datang untuk melaksanakan ibadah di Lapangan Gasibu bersama warga lainnya.
“Tadi ada yang dari Lampung, ada yang dari Kalimantan, ada yang sengaja dari Garut shalat id di sini, dari Karawang shalat id di sini, ada yang dari Cianjur. Saya lihat hampir seluruh pelosok Jawa Barat banyak warganya yang datang ke sini untuk melaksanakan shalat id,” katanya.
Di samping itu, Dedi mengapresiasi warga Jabar yang telah membayar zakat fitrah. Pasalnya pada tahun ini, jumlah dana yang diterima dari zakat tersebut naik lebih dari 100 persen dibanding sebelumnya.
Hal ini menandakan, bahwa ekonomi warga Jabar masih dalam kondisi baik, dan tingkat kesadaran dan kemampuan warga untuk membayar zakat meningkat.
Baca juga: Dedi Mulyadi Ungkap Penyegelan Eiger Camp karena Ada Kerawanan Bencana
“Saya pikir ini adalah hal yang sangat baik dan yang paling utama adalah kenaikan pembayaran zakat fitrah, kenaikannya lebih dari 100 persen. Artinya itu menandakan kesadaran dan kemampuan orang untuk membayar zakat sudah semakin meningkat dan kualitas ekonomi kita masih relatif sangat baik,” kata Dedi.
Dedi menambahkan, bila kualitas ekonomi masyarakat Jabar dalam kondisi yang tidak baik, maka itu akan berdampak pada tingkat pembayaran zakat yang akan menurun.
“Ini yang harus menjadi catatan penting, karena kalau kualitas ekonominya buruk orang belum tentu juga bisa bayar zakat fitrah atau bayar zakat yang lainnya,” pungkasnya.