Pelarian Ribut Uripah: Kabur dari Majikan Malaysia, Tinggal di Hutan 19 Tahun, Akhirnya Pulang ke Batang
BATANG, KOMPAS.com – Ribut Uripah, seorang pekerja migran asal Kabupaten Batang, Jawa Tengah, akhirnya kembali ke pelukan keluarganya setelah 19 tahun menghilang di Malaysia.
Kisahnya menjadi viral setelah ditemukan hidup dalam kondisi memprihatinkan di sebuah gubuk kayu di pinggiran kebun.
Selama hampir dua dekade, ia bertahan hidup tanpa alat komunikasi dan mengandalkan pekerjaan serabutan.
Baca juga: Bisa Pulang ke Batang, Ribut Uripah Ungkap Alasan 19 Tahun Tinggal di Hutan Malaysia
Pergi ke Malaysia Demi Anak, Berakhir Tanpa Gaji
Ribut Uripah berangkat ke Malaysia pada tahun 2006 dengan harapan bisa bekerja dan menghidupi anaknya yang masih kecil.
Ia menerima tawaran kerja sebagai asisten rumah tangga karena tidak memiliki pekerjaan di kampung halaman.
“Dulu saya ke Malaysia karena tidak ada kerjaan di sini. Ya, terpaksa lah, karena posisi saya waktu itu punya anak kecil,” ujarnya saat ditemui TribunJateng di rumahnya, Jumat (21/3/2025) malam.
Namun, harapannya sirna ketika ia harus bekerja selama satu tahun tanpa menerima gaji.
Bahkan, ia tidak diizinkan keluar rumah oleh majikannya. Merasa tidak tahan dengan perlakuan tersebut, Ribut akhirnya memutuskan untuk kabur.
Baca juga: Bus Jemaah Umrah Asal Indonesia Tabrak Jip Lawan Arah di Mekkah, 6 WNI Meninggal Dunia
Kabur Lewat Pintu Toko, Tinggal di Hutan Malaysia
Setelah setahun tanpa gaji dan kebebasan, Ribut melihat satu-satunya jalan keluar adalah melarikan diri. Ia kabur melalui pintu kedai yang terhubung dengan rumah majikannya.
“Sudah tidak betah sekali. Saya memilih kabur lewat pintu kedai di rumah majikan,” ungkapnya.
Tanpa tujuan yang jelas, Ribut berjalan hingga mencapai kawasan perkebunan. Di sana, ia membangun sebuah gubuk kayu sebagai tempat tinggalnya.
Sejak saat itu, ia hidup dalam keterasingan, jauh dari akses komunikasi maupun bantuan.
Bertahan Hidup dengan Pekerjaan Serabutan
Selama tinggal di hutan, Ribut mengandalkan pekerjaan serabutan untuk bertahan hidup. Ia bekerja sebagai buruh harian dengan membersihkan rumput dan mengangkut sampah ke kantor pengelola perkebunan. Upah yang diterimanya pun tidak menentu.
“Dibayar sekitar 45 ringgit per hari, tergantung siapa yang mau bayar,” katanya.
Tanpa listrik dan alat komunikasi, Ribut memasak dengan kayu bakar di depan gubuknya. Kesederhanaan menjadi bagian dari kehidupannya selama hampir dua dekade.
Takut Ditangkap Polisi karena Tak Punya Dokumen
Salah satu alasan Ribut memilih hidup dalam keterasingan adalah karena ia tidak memiliki dokumen resmi selama di Malaysia. Rasa takut akan ditangkap oleh pihak berwenang membuatnya enggan berinteraksi dengan dunia luar.
“Saya tidak punya dokumen, jadi takut kalau ketemu polisi Malaysia,” tuturnya.
Ketakutan itu membuatnya menjalani hidup dalam bayang-bayang, hanya fokus bekerja untuk bertahan hidup tanpa pernah mencari cara untuk kembali ke Indonesia.
Setelah 19 tahun hidup dalam keterasingan, Ribut akhirnya ditemukan dan dipulangkan ke Indonesia dengan bantuan berbagai pihak.
Kepulangannya ke Desa Candirejo, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, pada Jumat (21/3/2025) menjadi momen haru. Ia akhirnya bisa bertemu kembali dengan anak semata wayangnya, Istianah.
“Tadi saya nangis pas ketemu anak saya, sekarang dia sudah gede, cantik,” ungkapnya terharu.
Tak hanya keluarga, kerabat dan tetangga pun menyambut kepulangan Ribut dengan penuh antusiasme.
Baca juga: 105 TKI Dideportasi Malaysia, Pulang lewat Pelabuhan Dumai
“Alhamdulillah, banyak sekali tadi orang-orang saat saya datang, seperti mau pengajian,” katanya sambil tersenyum.
Kini, Ribut memilih untuk beristirahat dan menikmati kebersamaan dengan keluarga yang telah lama ia tinggalkan. Ia juga bersyukur bisa merayakan Idul Fitri bersama orang-orang tercinta.
“Senang bisa pulang lebih cepat, jadi bisa Raya di kampung halaman. Mau istirahat dulu dan ketemu saudara serta tetangga-tetangga,” pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kisah Ribut Uripah Nekat Kabur dari Majikan di Malaysia, Pilih Tinggal di Gubuk, Kini Pulang Kampung