Harga Telur AS-Singapura Naik Gila-gilaan, Bagaimana Kondisi di RI?
Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan stok telur ayam dalam negeri melimpah di tengah krisis harga telur ayam alias eggflation yang melanda Amerika Serikat (AS) hingga Singapura.
Saat ini, harga telur di AS tembus US$4,11 atau Rp68.103 per kilogram. Begitu pula harga telur di Singapura yang mencapai US$3,24 atau Rp53.687 per kilogram dan di Australia US$4,13 atau Rp68.428 per kilogram.
Bahkan, harga telur di Swiss menyentuh US$6,85 atau sekitar Rp113.534 per kilogram. Sementara itu, di Selandia Baru harga telur mencapai US$6,22 atau Rp103.063 per kilogram dan harga telur di Prancis dibanderol US$4,08 atau Rp67.606 per kilogram.
Baca Juga : Mendag Buka Suara Soal Potensi RI Ekspor Telur Ayam ke AS
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan Moch. Arief Cahyono menyatakan harga telur ayam di Indonesia tetap stabil dengan stok yang terjaga, bahkan melimpah.
Per 25 Maret 2025, harga telur ayam ras nasional dibanderol Rp29.475 per kilogram. Harganya sedikit di bawah harga acuan penjualan (HAP) nasional atau di level Rp30.000 per kilogram.
Baca Juga : : Pengusaha Ayam Petelur Tadah Berkah saat Ramadan, Permintaan Naik 20%
Arief menyebut negara-negara eksportir grand parent stock (GPS) ayam ke Indonesia justru mengalami kekurangan pasokan dan harga telur melambung tinggi.
Dia menjelaskan fenomena eggflation alias inflasi harga telur terjadi di negara-negara yang menjadi sumber impor GPS, seperti Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, termasuk Prancis.
Baca Juga : : Zulhas Pastikan Stok Telur dan Ayam Cukup Penuhi Ramadan 2025
Menurutnya, kondisi yang kurang stabil di sejumlah negara menunjukkan bahwa industri peternakan ayam petelur secara global tengah menghadapi tantangan.
“Amerika Serikat, Prancis, dan beberapa negara Eropa yang selama ini menjadi pemasok utama GPS ke Indonesia kini tengah berjuang menghadapi krisis pasokan akibat wabah penyakit unggas dan kenaikan biaya produksi,” ujar Arief dalam keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (26/3/2025).
Arief menuturkan fenomena eggflation yang melanda berbagai negara menyebabkan lonjakan harga telur. Lonjakan harga ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk wabah flu burung yang meningkatkan biaya produksi, serta krisis pasokan di sejumlah negara.
Alhasil, produk berbasis telur seperti kue kering dan makanan olahan lainnya yang kini mencapai rekor tertinggi.
Berdasarkan proyeksi neraca pangan 2025 yang dihimpun oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas), produksi telur ayam ras mencapai 6,4 juta ton, sedangkan kebutuhan bulanan sekitar 518.000 ton. Sehingga, Indonesia diperkirakan akan terus mengalami surplus telur ayam ras.
Menurut Kementan, surplus produksi telur ayam ras ini juga membuka peluang bagi Indonesia untuk mengekspor telur ayam ke berbagai negara yang mengalami keterbatasan pasokan.
“Kekurangan stok di negara lain bisa menjadi peluang bagi kita untuk melakukan ekspor. Salah satu rencana ekspor adalah ke Amerika Serikat. Berdasarkan neraca komoditas, pemerintah siap mengirimkan 1,6 juta butir telur setiap bulan,” bebernya.
Lebih lanjut, dia menegaskan Kementan telah melakukan perhitungan matang agar ekspor tidak mengganggu ketersediaan telur di dalam negeri.
Selain itu, Kementan juga akan terus memastikan keseimbangan antara pasokan dan harga agar tidak merugikan peternak maupun konsumen.