Banjir Kritikan Setelah Juara, Kampiun Thailand Masters 2025 Buka Suara Soal Perilakunya
BOLASPORT.COM – Tunggal putra Singapura yang sedang naik daun, Jia Heng Jason Teh, buka suara setelah banyak dikritik akibat perilakunya di lapangan setelah jadi juara Thailand Masters 2025 beberapa pekan lalu.
Penantian panjang Jia Heng Jason Teh meraih gelar juara pertamanya di ranah BWF World Tour akhirnya kesampaian setelah dia memenangi Thailand Masters 2025, akhir Januari lalu.
Berkat keberhasilannya jadi kampiun di turnamen BWF World Tour Super 300 itu, ranking Jason Teh melejit dengan kini bertengger di peringkat 26 dunia.
Itu adalah gelar pertama Jason Teh setelah dia menunggu selama tujuh tahun lamanya.
Sebelum itu, pemain berusia 24 tahun itu selalu jadi spesialis runner-up.
Masuk tujuh kali final, tujuh kali pula dia selalu berakhir dengan podium dua.
Baca Juga: Daftar Unggulan German Open 2025 – Trias/Rachel Satu-satunya dari Indonesia, Viktor Axelsen Turun Gunung untuk Jadi Raja Terakhir
Gelar juara Thailand Masters itu juga diraih dengan dramatis karena Teh sempat tertikung saat menghadapi Wang Zeng Xing asal China.
Tak ayal, dia terlarut dalam suasana yang intens dan mendebarkan, hingga sempat membanting raket setelah memastikan kemenengan di final.
Aksi banting raket sebenarnya bukan hal asing di dunia bulu tangkis, tetapi bagi warganet Singapura, perilaku Teh itu makin membuatnya dipandang negatif.
Karena dia juga merupakan pebulu tangkis yang memiliki perawakan sangar dengan tato dan punya kebiasaan berani menatap mata lawan setelah dapat poin.
Nama Teh yang meroket di dunia bulu tangkis Negeri Singa,mendampingi ketenaran Loh Kean Yew yang pernah Juara Dunia 2021, pun diiringi banjir kritikan tentang attitude dia.
“Mungkin saya terlihat seperti itu dan bagaimana saya berada di zona saya selama pertandingan (dengan perilaku begitu), tetapi 100 persen saya tidak pernah bermaksud untuk tidak menghormati lawan-lawan saya,” ujar Jason Teh dikutip Bolasport dari Straits Times.
“Membanting raket jelas bukan perilaku yang benar, tapi saya melakukannya secara spontan.”
“Saya tidak pernah melakukan itu sebelumnya, karena saya tidak pernah berada dalam situasi seperti itu sebelumnya,” kata dia.
“Saya sudah unggul 17-14 (jelang match point) dan kemudian saya malah sempat tertinggal 18-19 gara-gara menyentuh net,” ungkapnya menjelaskan.
Jason Teh terlarut dalam momen dramatis dan sangat bersejarah bagi kariernya.
Dia sempat berada di titik merasa jalan kariernya bukan di bulu tangkis. Banyak suka duka yang telah dia lalui, yang tidak semua orang tahu.
“Saya sempat berpikir bahwa saya bukan terlahir sebagai juara,” kata Teh.
“Tapi sekarang saya akhirnya juara. Saya merasa perlu mengeluarkan emosi saya yang meluap.”
“Sebelumnya saya selalu kalah di tujuh final, saya pikir mereka yang belum merasakan hal seperti itu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya (akhirnya bisa juara).”
“Tetapi saya sangat bersyukur dengan komentar-komentar positif maupun negatif, selama mereka tidak menyerang keluarga saya, saya tidak apa-apa,” tambahnya.
Semenjak jadi wajah baru bulu tangkis Singapura, Jason Teh lebih sibuk dengan berbagai interviu.
Dia sangat bersyukur atas gelar pertamanya dan kini berusaha lebih percaya diri dalam menghadapi setiap turnamen.
“Thailand Masters mungkin ‘hanya’ titel Super 300 dan bukan turnamen besar, tetapi ini menjadi afirmasi bagi kemampuan saya,” kata Teh.
“Saya tidak akan stress lagi menahan beban di pundak saya dalam memenangi sebuah turnamen. Saya tidak akan bertanya-tanya kapankah gelar pertama akan datang.”
“Saya sekarang lebih percaya diri dan yakin pada diri saya sendiri untuk menantang para unggulan di atas,” tambahnya.
Baca Juga: Respons Ganda Putra Malaysia dan Juara Bertahan Fajar/Rian Tatap All England Open 2025