Waspadai 6 Tanda Tubuh Miliki Hormon Stres Tinggi, Cemas Berlebihan hingga Kelelahan Ekstrem
JAKARTA, KOMPAS.TV – Kortisol adalah hormon stres yang diproduksi oleh kelenjar adrenal, yaitu kelenjar kecil yang terletak di atas ginjal, saat tubuh mengalami stres. Hormon ini memainkan peran utama dalam mengatasi stres jangka pendek.
Hormon kortisol dapat membantu tubuh dalam menanggapi stres dan mempertahankan keseimbangan energi. Hormon ini juga dapat memengaruhi banyak proses fisiologis dalam tubuh, termasuk metabolisme, regulasi tekanan darah, sistem kekebalan tubuh, dan pengaturan tidur.
Meski begitu, kadar kortisol yang terlalu tinggi dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Dikutip dari laman Health, berikut beberapa tanda kortisol terlalu tinggi dalam tubuh.
Baca Juga: 5 Makanan yang Dapat Menurunkan Hormon Kortisol dalam Tubuh, Ada Apa Saja ya?
1. Berat badan naik drastis
Kadar hormon kortisol terlalu tinggi dalam jangka waktu yang lama menyebabkan berbagai masalah, salah satunya adalah kenaikan berat badan yang drastis. Pasalnya, hormon ini juga dapat meningkatkan nafsu makan, terutama terhadap makanan yang tinggi gula dan lemak.
Makanan-makanan ini memberikan energi cepat, namun juga berkontribusi pada penumpukan lemak. Hormon stres ini juga mendorong perubahan metabolisme tubuh, di mana tubuh cenderung menyimpan energi dalam bentuk lemak, terutama di area perut.
Hal ini adalah mekanisme tubuh untuk menghadapi situasi stres, di mana tubuh merasa perlu menyimpan cadangan energi. Kortisol juga memengaruhi cara tubuh mendistribusikan lemak.
Hormon ini mendorong tubuh untuk menyimpan lebih banyak lemak di area perut, wajah, dan leher, daripada di bagian tubuh lainnya.
2. Perubahan suasana hati
Tanda kortisol terlalu tinggi dalam tubuh selanjutnya adalah perubahan suasana hati dengan cepat. Pasalnya, hormon ini dapat memengaruhi produksi neurotransmitter seperti serotonin dan dopamin.
Neurotransmitter berperan penting dalam mengatur suasana hati. Ketika kadar serotonin dan dopamin menurun akibat stres berkepanjangan, kita cenderung merasa sedih, cemas, atau mudah marah.
Hormon stres yang terlalu tinggi dalam jangka panjang juga memengaruhi pola tidur. Pola tidur yang buruk dan kurang tidur dapat memperburuk suasana hati.
3. Menimbulkan kecemasan
Kadar kortisol tinggi terus-menerus dapat mengganggu keseimbangan kimiawi di otak dan memicu berbagai masalah, termasuk kecemasan. Ketika kita merasa terancam, tubuh melepaskan kortisol untuk mempersiapkan tubuh dalam mode fight or flight.
Hal ini menyebabkan peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan gula darah untuk memberikan energi ekstra. Selain itu, amigdala, bagian otak yang berperan dalam memproses emosi, sangat sensitif terhadap kortisol.
Ketika kadar kortisol tinggi, amigdala menjadi lebih aktif, memicu perasaan takut dan cemas yang berlebihan, bahkan dalam situasi yang sebenarnya tidak berbahaya.
4. Kelelahan ekstrem
Tanda kortisol terlalu tinggi dalam tubuh selanjutnya adalah kelelahan ekstrem. Sebab, hormon stres ini dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh, sehingga sulit merasa rileks.
Hormon ini juga membuat otak tetap aktif meski pada malam hari. Hal ini dapat memicu insomnia atau gangguan tidur, sehingga tubuh tidak cukup istirahat.
5. Siklus haid tidak teratur
Siklus haid tidak teratur juga menjadi tanda hormon kortisol tinggi. Ketika kadar kortisol terlalu tinggi dalam jangka waktu yang lama, hal ini dapat mengganggu keseimbangan hormonal yang mengatur siklus haid.
Kortisol yang berlebihan dapat menghambat produksi hormon reproduksi seperti estrogen dan progesteron. Hormon-hormon ini sangat penting dalam mengatur siklus menstruasi yang normal.
Kortisol yang tinggi juga dapat memicu peradangan dalam tubuh, termasuk pada organ reproduksi. Peradangan kronis dapat mengganggu fungsi ovarium dan ovulasi.
Baca Juga: 7 Makanan Ini Bisa Bantu Tingkatkan Hormon Estrogen
6. Sering buang air kecil
Tanda kortisol terlalu tinggi dalam tubuh selanjutnya adalah sering buang air kecil. Pasalnya, hormon ini dapat memengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh.
Hal ini bisa menyebabkan ginjal memproduksi lebih banyak urine, sehingga lebih sering ke kamar mandi. Kortisol juga dapat meningkatkan tekanan darah.
Tekanan darah tinggi yang kronis dapat membebani ginjal dan menyebabkan peningkatan produksi urine.