Informasi Terpercaya Masa Kini

Benarkah Melajang Lebih Membahagiakan?

0 12

Persepsi masyarakat terhadap status lajang semakin berbalik. Beberapa dekade lalu, hidup tanpa pasangan jangka panjang masih diasosiasikan dengan kegagalan pribadi. Pernikahan dianggap sebagai pencapaian yang harus diraih oleh semua orang, dengan adanya tekanan sosial (khususnya terhadap perempuan) untuk menikah pada usia tertentu.

Ketidakmampuan atau keengganan untuk mengikuti norma tersebut sering kali memicu stigma bahwa seseorang belum dewasa, tidak berkembang, bahkan digambarkan sebagai sosok yang kesepian, kurang menarik, dan menyedihkan. Orang lajang entah bagaimana dipandang sebagai paria sosial.

Hari ini, pandangan sosial tersebut bukan hanya memudar, tetapi juga ditantang secara aktif melalui apa yang dikenal sebagai “single positivity movement”. Gerakan ini menolak mentah-mentah stereotip negatif yang melekat pada status lajang dengan menekankan bahwa tidak pernah menikah atau tidak memiliki pasangan jangka panjang merupakan pilihan sah.

Alih-alih dicemooh, para pendukungnya percaya bahwa status lajang patut dirayakan karena membuka ruang untuk berfokus pada tujuan dan pertumbuhan pribadi. Gagasan ini telah dipromosikan oleh banyak publik figur, terutama artis Hollywood. Dalam sebuah wawancara, Emma Watson dengan bangga mengklaim dirinya sebagai “self-partnered”.

Dan perhatikan lagi lagu Miley Cyrus “Flowers” yang dipuji sebagai ode untuk mencintai diri sendiri oleh para penggemar: “I can buy myself flowers. Write my name in the sand. Talk to myself for hours, say things you don’t understand. I can take myself dancing and I can hold my own hand. Yeah, I can love me better than you can.”

Bagi beberapa orang, pendekatan positif terhadap status lajang bahkan lebih dari sekadar aktualisasi diri.

Pada tahun 2015, Sophie Tanner, seorang konsultan digital di Inggris, memutuskan untuk menikahi dirinya sendiri (sologami). Dengan memprioritaskan hubungan dengan dirinya sendiri, dia mengaku telah mengalami perkembangan pribadi yang signifikan melalui proses penerimaan diri dan peningkatan kebahagiaan.

Logika biner yang sama

Apa yang saya sukai dari gerakan “single positivity” adalah sikap santai para pendukungnya. Mereka tidak menunggu apa pun. Mereka tidak merasa hidupnya tertunda dan justru mulai “mengisi cangkir” diri sendiri tanpa bergantung pada kehadiran orang lain.

Itu bisa berarti menyambut hari-hari kosong tanpa tekanan untuk segera mengisinya. Itu juga bisa juga berarti melakukan hal-hal yang mungkin tidak sempat (atau tidak mungkin) dilakukan jika memiliki pasangan, mulai dari mengikuti lomba maraton, mempelajari (lagi) piano dan bahasa asing, hingga sesederhana membersihkan kamar.

Bagaimanapun, gerakan ini tidak terbebas dari kritik.

Ada yang frontal mengatakan bahwa gerakan “single positivity” terkesan merendahkan dan dibuat-buat, seolah menjadi lajang sangatlah menyedihkan sehingga orang membutuhkan tagar penyemangat untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa mereka baik-baik saja. Walau akan menyenangkan berjalan-jalan sambil menyanyikan lagu Miley Cyrus “Flowers”, antusiasme seperti itu dianggap tidak perlu.

Pendekatan “cinta diri sendiri” melalui status lajang juga dikritik sebagai pelarian dari emosi yang kompleks dan tidak selalu menyenangkan ketika menjalin hubungan, seperti kerinduan, kepahitan, dan kebencian. Di era yang terobsesi dengan pertumbuhan pribadi ini, semua itu harus dihindari atau setidaknya diubah menjadi sesuatu yang membangkitkan semangat.

Di luar itu, saya pikir gerakan tersebut secara tidak sengaja telah melanggengkan logika biner yang melekat pada pandangan sosial tradisional. Jika sebelumnya status lajang pada usia “matang” dinilai sebagai kegagalan (dan aib) pribadi, kini orang yang berpasangan justru semakin dilihat sebagai sosok yang rentan dan kurang mandiri.

Selain itu, beberapa pendukung militannya juga menggambarkan kesedihan orang-orang lajang sebagai cerminan dari kendali diri yang lemah, seolah mereka gagal mengubah perspektif mereka untuk menjadi bahagia. Dengan cara ini, gerakan “single positivity” tidak kurang toxic dari pendahulunya dengan merek “self-development” yang mencoba mengubah status lajang menjadi identitas dan cara hidup tersendiri.

Hal itu mengabaikan fakta bahwa tidak ada orang yang benar-benar ingin sendirian. Sama seperti menjalin hubungan, menjadi lajang bagi beberapa orang merupakan pengalaman menyakitkan, memalukan, dan penuh kesepian. Pandangan bahwa ketidakbahagiaan seperti itu tidak sah atau sepatutnya diabaikan sangatlah keterlaluan.

Jika seseorang dicampakkan atau dikecualikan dari cinta romantis karena alasan apa pun, rasanya agak mengada-ada untuk mengharapkan mereka merayakan kondisi tersebut. Apakah mereka mengecewakan gerakan “single positivity” apabila mereka merasakan hal sebaliknya?

Lebih jauh, meskipun status lajang tidak membawa beban yang sama bagi setiap individu, pengalaman ini bisa terasa sama tak terselesaikannya. Bayangkan jika seseorang telah lama membayangkan pasangan idamannya, tetapi sosok itu tidak kunjung hadir. Dia pun stuck antara terus berharap atau melanjutkan hidup. Menggantung di antara dua pilihan ini amat-sangat tidak nyaman.

Variabel-variabel lain juga harus diperhatikan, misalnya status sosial dan ekonomi.

Jika Anda adalah seorang pemuda mapan dengan paras rupawan dan kehidupan sosial yang menyenangkan, lebih mudah bagi Anda untuk menikmati kesendirian dan status lajang yang menyertainya daripada jika Anda sudah lanjut usia, menganggur, atau terisolasi di rumah sekian lama karena alasan tertentu.

Faktanya, gerakan “single positivity” muncul dan berkembang di kalangan perempuan kulit putih yang memiliki berbagai privilese, seperti lebih banyak kebebasan dan pilihan atas jalan hidup mereka. Narasi “melajang itu membahagiakan dan memberdayakan” tidak populer di antara populasi miskin, pengangguran, pengungsi, dan migran yang paling menderita akibat kesepian dan isolasi.

Kehidupan mereka tidak stabil, demikian pula hubungan mereka. Ketika mereka kesepian, dibandingkan populasi kelas atas, mereka jauh lebih tidak mampu mendapatkan dukungan sosial atau medis yang memadai.

Hidup tidak sesederhana hitam/putih

Studi kebahagiaan Universitas Harvard, yang melacak perjalanan hidup para pesertanya selama beberapa dekade, menunjukkan bahwa kualitas hubungan memainkan peran kunci dalam menentukan kesejahteraan dan kebahagiaan seseorang. “Orang yang paling puas dalam hubungan mereka pada usia lima puluh adalah yang paling sehat pada usia delapan puluh,” ungkap salah satu direktur studi tersebut.

Menariknya, hubungan yang dimaksud tidak merujuk secara khusus pada hubungan romantis, melainkan segala bentuk hubungan yang memberikan makna dalam kehidupan.

Temuan tersebut menyiratkan bahwa, baik menjalin hubungan ataupun menjadi lajang, keduanya tidak secara otomatis membahagiakan dan memberdayakan jika seseorang ujung-ujungnya tidak memiliki relasi bermakna dan sumber daya yang mendukung kemandirian.

Dengan demikian, kita sebaiknya berhenti melihat masalah ini sebagai hitam/putih, seolah yang satu lebih membahagiakan daripada yang lain. Logika biner seperti ini didasarkan pada asumsi yang salah bahwa berpasangan berarti kehilangan waktu untuk diri sendiri, begitu pula sebaliknya. Generalisasi ini tidak akurat.

Kenyataannya jauh lebih rumit.

Sebagian besar orang yang berpasangan masih memiliki waktu untuk mengembangkan kompetensi dan otonominya, dan mereka juga jelas tidak kebal terhadap kesepian. Di sisi lain, orang-orang lajang juga biasanya masih hidup berdampingan dengan teman, kerabat, dan/atau saudara kandung; mereka, singkatnya, tidak terisolasi seperti yang dibayangkan.

Memang, beberapa orang lajang tidak seberuntung yang lain. Mereka punya kebutuhan sosial yang tidak terpenuhi dan merasa kesepian akibat kesendiriannya. Daripada mencela kesedihan mereka, kita harus mengakui bahwa kondisi dan keluhannya sah, bahwa mereka memiliki kebutuhan sosialnya tersendiri, dan bahwa kita ada untuk mereka.

Saya sendiri menikmati masa lajang saya, meskipun saya tetap memilih untuk berpasangan bila diberi pilihan. Saya tidak merasa lebih baik dalam kesendirian. Saya terkadang kesal ketika orang-orang berpasangan membuat komentar berlebihan seperti “kamu beruntung masih lajang” atau “seandainya aku punya banyak waktu luang sepertimu”.

Camkan bahwa, kenyataannya, banyak waktu luang dan energi emosional saya terkuras akibat kesepian. Jika diberi pilihan, saya lebih suka menghabiskan waktu luang saya yang seharusnya glamor untuk melakukan sesuatu yang kurang glamor seperti bersantai di sofa dengan pasangan sambil menonton Netflix.

Bagaimanapun, keinginan tersebut tidak membuat saya lesu dan hanya meringkuk di kasur setiap hari. Ya, saya menginginkan pasangan, tetapi bukan berarti saya tidak bisa berfungsi tanpanya. Saya tidak menunggu.

Saya biasanya membayangkan menatapi sebuah bola kristal, dan di situ melihat bahwa saya akan menemukan pasangan impian saya dalam, katakanlah, lima tahun lagi. Namun tidak sebelum itu. Apa yang akan saya lakukan dengan jeda waktu tersebut, terbebas dari beban untuk mencari “the one”?

Saya akhirnya bisa bersantai, bebas melakukan hal-hal yang selalu saya idamkan: menulis buku, belajar bermain gitar dan piano, menyelesaikan banyak puzzle jigsaw, dan lain-lain. Saya masih menginginkan sebuah hubungan, dan saya tidak akan menolak jika hubungan itu terjalin secara alami, tetapi pengalaman emosional di masa lalu telah mengajarkan saya untuk lebih realistis dalam menghadapi keinginan tersebut.

Merenungi bola kristal (imajinatif) itu mengajak saya untuk berhenti meratapi harapan yang belum terwujud dan mendefinisikan ulang arti kehidupan yang memuaskan. Di dunia yang rentan dengan isolasi ini, status lajang dan menjalin hubungan hanyalah dua sisi mata uang yang sama; perbedaan antara keduanya sering kali hanya soal waktu.

Kita terlalu fokus melihat hubungan interpersonal sebagai solusi tunggal atas permasalahan emosional atau sebagai penyebab kegelisahan, padahal poin intinya bukan itu.

Gerakan “single positivity” muncul ketika angka perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, dan ketidaksetaraan sosial-ekonomi di berbagai negara terus meningkat. Jadi, daripada meributkan apakah menjadi lajang itu membahagiakan atau tidak, saya pikir lebih produktif kalau kita mempertanyakan apa yang harus dilakukan guna memperbaiki kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang semakin menantang.

Memang, kita tidak perlu menunggu dunia yang lebih baik untuk mulai memelihara bentuk hubungan yang berbeda; perubahan dapat dimulai dari diri sendiri. Namun, tidak kalah pentingnya, kita juga membutuhkan perbaikan secara menyeluruh untuk memberikan kontribusi yang lebih berarti bagi kualitas hidup semua orang.

Leave a comment