Informasi Terpercaya Masa Kini

Kok Beda dengan Kalender Aboge? Ternyata Ini Sejarah Muhammadiyah Gunakan Metode Hisab dalam Menentukan Idulfitri

0 17

Sejarah Muhammadiyah menggunakan metode hisab dalam menentukan awal puasa dan Idulfitri erat kaitannya dengan Keraton Yogyakarta. Bagaimana kisahnya?

Intisari hadir di WhatsApp Channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

Intisari-Online.com – Dalam menentukan hari-hari besar umat Islam seperti Ramadhan, Idulfitri, dan Iduladha, Muhammadiyah selalu menggukana metode hisab. Ini berbeda dengan cara NU yang menggunakan metode rukyatul hilal.

Lalu bagaimana sejarah Muhammadiyah menggunakan metode hisab dalam menentukan Ramadhan dan Idulfitri?

Baca Juga: Bagaimana Penerapan Khittah Ujung Pandang 1971 Dapat Memengaruhi Peran Muhammadiyah dalam Kehidupan Berbangsa dan Benegara?

 

Berbicara tentang sejarah penggunakan metode hisab oleh Muhammadiyah tentu erat kaitannya dengan sang pendiri, Kiai Ahmad Dahlan. Dalam melakukan metode itu, Ahmad Dahlan ternyata melakukannya jauh sebelum Muhammadiyah berdiri.

Metode hisab yang diperkenalkan oleh Ahmad Dahlan ternyata dia peroleh ketika “sekolah” di Mekkah. Di pusat agama Islam itulah Ahmad Dahlan berkenalan dengan ide-ide Islam modernis, termasuk dalam hal penggunaan kalender.

Hal pertama yang dia lakukan sekembalinya dari Mekkah adalah meluruskan arah kiblat pada akhir abad ke-19. Tentu ide itu menjadi perdebatan kalangan muslim saat itu.

Sultan Hamengkubuwono VII ternyata mencium potensi Ahmad Dahlan. Pada awal abad ke-20, tepatnya pada 1903, HB VII mengutus Ahmad Dahlan melakukan ibadah haji kedua dengan biaya penuh dari Kesultanan.

Tak hanya beribadah, Sultan ingin Ahmad Dahlan bertemu para sarjana Islam dan berbagai belahan dunia untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Ahmad Dahlan akhirnya bertemu dengan Rasyid Ridha, penganut Islam reformis sekaligus murid Jamaluddin Al-Afghani. Ahmad Dahlan juga bertemu dengan Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawiy yang kemudian juga menjadi salah satu gurunya.

Lewat Raden Haji Dahlan Semarang, Syekh Jami Jambek Bukittinggi, dan Sayid Usman Al-Habsyi Jakarta, Ahmad Dahlan memperdalam dan menyempurnakan ilmu falak, geografi, dan astronominya. 

Pada 18 November 1912, Muhammadiyah berdiri. Ketika itu umat Islam di Yogyakarta, termasuk pihak Keraton, masih menggunakan kalender Jawa Aboge (Alif, Rebo, Wage). Ini adalah kalender yang menggunakan perhitungan Jawa yang digunakan sejak zaman Wali Songo.

Mengutip Muhammadiyah.or.id, Kiai Ahmad Dahlan kemudian menemukan perbedaan tanggal Hijriyah hari-hari besar umat Islam yang biasa digelar Keraton seperti Grebeg Maulid, Grebeg Syawal, dll., ternyata berbeda dengan kalender Aboge.

Karena itulah Ahmad Dahlan kemudian menghadap kepada Sultan dan menjelaskan temuannya sekaligus minta izin supaya Muhammadiyah diperbolehkan menggunakan penentuan tanggalnya sendiri. Permintaan itu diloloskan oleh HB VII, sebagaimana dicatat dalam buku Pemikiran dan Perilaku Politik Kiai Haji Ahmad Dahlan (2012) tulisan Ahmad Faizin Karim.

“Berlebaranlah kamu menurut hisab atau rukyat, sedang Grebeg tetap menurut perhitungan Aboge,” begitu jawaban Sultan kepada Ahmad Dahlan, dikutip dari Muhammadiyah.or.id.

Perbedaan metode hisab dan rukyatul hilal

 

Masyarakat Indonesia mengenal dua metode dalam menentukan awal bulan di kalender Hijriyah, yaitu dengan metode hilal dan hisab. Dua metode tersebut adalah cara penentuan awal bulan di kalender Hijriyah yang diterapkan oleh ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Nahdlatul Ulama menggunakan metode rukyat dengan berdasar pada pemantauan munculnya hilal baik dengan mata telanjang maupun menggunakan teleskop. Sementara Muhammadiyah menggunakan metode hisab atau perhitungan untuk menentukan waktu jatuhnya awal bulan baru

Perbedaan awal puasa Ramadhan biasanya terjadi jika hasil hisab berbeda dengan hasil rukyatul hilal. Sementara hisab telah menentukan waktu kemunculan hilal dengan hitungan dengan acuan ijtimak atau konjungsi sebagai batas kulminasi awal dan akhir bulan, rukyatul hilal atau pengamatan hilal bisa memunculkan hasil berbeda.

Penyebabnya adalah jika pada waktu pengamatan yang ditentukan, hilal tidak dapat teramati karena posisi hilal akan terlalu rendah atau kurang dari 2 derajat. Terlebih sejak awal 2022, Kementerian Agama telah mengadopsi kriteria baru yaitu mengacu hasil kesepakatan Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS).

Mengutip laman kemenag.go.id, Menteri Agama anggota MABIMS telah menyepakati untuk menggunakan kriteria baru yaitu tinggi hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Biasanya perbedaan waktu awal puasa Ramadhan akan berselang satu hari antara hasil rukyat dengan hasil hisab.

Hal ini karena penerapan istikmal yaitu melakukan pembulatan jumlah hari sampai tiga puluh hari sebelum dimulainya bulan yang baru apabila hilal tidak terlihat. Sidang isbat sendiri biasanya dilakukan pada 29 Syaban, tahun ini jatuh pada 10 Maret 2024.

Mengutip Kompas.com, dalam sidang isbat biasanya akan dipaparkan terkait pengamatan posisi hilal di awal Ramadan. Setelah itu akan dilakukan sidang secara tertutup dan hasilnya dipaparkan secara langsung dan disiarkan media massa.

Untuk informasi, sidang isbat pertama kali diadakan untuk menentukan awal Ramada tak lama setelah Departemen Agama didirikan pada 3 Januari 1946. Kini Departemen Agama sudah berganti menjadi Kementerian Agama, gedungnya di seberang Lapangan Banteng.

Kegiatan isbat mulai berjalan pada 1950 dengan menghadirkan para ulama untuk penentuan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Dalam sidang isbat ketika itu, menteri agama mendengarkan paparan dari para ulama dan organisasi massa Islam.

Departemen Agama kemudian membentuk Badan Hisab Rukyat (BHR) pada 1972 untuk menyeragamkan pelaksanaan hari raya Islam. Ketika itu pemerintah menggandeng astronom untuk memberikan pandangan dari sisi ilmu pengetahuan.

Kemenag mulai mengundang sejumlah duta besar negara sahabat untuk mengikuti sidang isbat mulai 2013. Dua organisasi massa Islam besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, kerap berbeda dalam menentukan awal Ramadhan.

Perbedaan itu disebabkan oleh metode yang dianut masing-masing lembaga. Untuk NU, penentuan awal Ramadhan mengacu kepada rukyatul hilal. Caranya adalah dengan pengamatan langsung hilal atau bulan baru.

Sedangkan Muhammadiyah memilih metode wujudul hilal dengan cara hisab. Hisab dalam hal ini adalah menghitung posisi Bumi terhadap Matahari dan Bulan secara matematika dan astronomi.

Sifat utama sidang isbat adalah musyawarah. Sebab hasil dalam sidang itu merupakan kesepakatan antara masing-masing ormas Islam yang diwakili oleh utusan masing-masing.

Maka dari itu, baik NU dan Muhammadiyah pun tidak pernah memaksakan supaya masyarakat mengikuti mereka dalam hal penetapan awal Ramadhan dan 1 Syawal atau Idulfitri. Begitulah sejarah Muhamamdiyah menggunakan metode hisab dalam menentukan awal puasa Ramadhan dan Idulfitri atau Iduladha.

Baca Juga: Dialah Sosok di Balik Berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah, Pernah Ngambek tapi Maju Terus

Leave a comment