Informasi Terpercaya Masa Kini

Tren Baju Lebaran, Siapa yang Sebenarnya Kita Puaskan?

0 7

Saya pernah mendengar seseorang bercanda, “Lebaran tanpa baju baru itu kayak sayur tanpa garam. Masih bisa dimakan, tapi hambar.” Serius? Jadi, inti dari Lebaran ada di baju baru?

Tapi mari kita jujur. Setiap tahun, tren baju Lebaran seolah lebih sakral daripada khutbah Idulfitri. Ada yang sibuk cari baju matching sekeluarga, ada yang berlomba-lomba pakai outfit dari brand ternama, dan ada pula yang rela antre di mall demi koleksi terbaru.

Saya sendiri? Jujur saja, saya netral soal baju Lebaran. Mau baru, lama, mahal, murah, model terkini atau klasik saya biasa saja. Kalau ada baju yang nyaman dan pantas dipakai, ya sudah, cukup. Tapi melihat fenomena ini, saya jadi bertanya-tanya:

Sebenarnya, baju Lebaran ini kita pakai untuk diri sendiri atau untuk memuaskan ekspektasi orang lain?

Saya tidak tahu bocoran outfit lebaran itu seperti apa, selama itu pantas dan cocok digunakan itu bukanlah masalah.

Tradisi atau Tekanan Sosial?

Baju baru saat Lebaran sebenarnya bukan hal yang aneh. Sejak kecil, banyak dari kita terbiasa mendengar lagu Baju Baru Alhamdulillah yang menggambarkan kebahagiaan memakai pakaian baru di Hari Raya. Bahkan, di banyak keluarga, membeli baju baru menjelang Lebaran sudah seperti ritual tahunan.

Dulu, membeli baju baru adalah bentuk syukur dan penyegaran setelah sebulan berpuasa. Tapi sekarang, apakah kita benar-benar membeli baju karena ingin merasa fresh atau karena takut dikomentari orang?

Pernah dengar kalimat seperti ini? “Eh, itu bajunya bukan yang dipakai waktu kondangan bulan lalu?” atau rasan-rasan yang sejenisnyalah.

Komentar-komentar semacam ini mungkin terdengar sepele, tapi bisa jadi tekanan sosial tersendiri. Banyak orang akhirnya merasa wajib membeli baju baru bukan karena ingin, tapi karena takut dinilai.

Di era media sosial seperti sekarang, tren baju Lebaran semakin kompetitif. Dulu, cukup pakai baju yang rapi dan sopan, sudah terasa spesial. Sekarang?

Outfit Lebaran harus Instagrammable, serasi dengan keluarga, dan kalau bisa, limited edition.

Tren ini juga didorong oleh banyaknya brand yang mengeluarkan koleksi khusus Lebaran. Dari desainer ternama sampai toko online, semua berlomba-lomba menawarkan “baju Lebaran terbaik” dengan berbagai embel-embel: syar’i, modern, minimalis, mewah, glamor, dan lain-lain.

Tidak ada yang salah bro dengan mengikuti tren atau membeli baju dari brand mahal. Jika memang suka dan mampu, kenapa tidak?

Yang jadi masalah adalah ketika seseorang merasa harus membeli baju mahal hanya karena takut kalah gaya atau takut dipandang sebelah mata.

Pernah dengar cerita orang yang rela berutang demi membeli baju Lebaran? Atau mereka yang mengutamakan beli outfit baru tapi lupa sedekah? Itulah yang saya maksud dengan gengsi yang mulai mengaburkan esensi.

Untuk Siapa Kita Berpakaian?

Inilah pertanyaan utama yang seharusnya kita renungkan: Baju Lebaran ini kita pakai untuk siapa?

Jika membeli baju baru membuat kita lebih percaya diri dan bahagia, tidak masalah. Jika mengikuti tren membuat kita merasa lebih bersemangat menyambut Lebaran, silakan saja.

Tapi jika kita merasa tertekan, takut dihakimi, atau bahkan harus memaksakan diri secara finansial hanya demi memenuhi ekspektasi orang lain—mungkin sudah saatnya kita bertanya ulang, apakah ini masih tentang kebahagiaan kita, atau justru kebahagiaan orang lain? 

Menikmati Lebaran dengan Lebih Jujur

Sebagai seseorang yang netral terhadap baju Lebaran, saya melihat fenomena ini dari dua sisi. Saya mengerti bahwa bagi sebagian orang, membeli baju baru adalah bagian dari kebahagiaan Lebaran. 

Tapi saya juga paham bahwa bagi yang lain, Lebaran tetap terasa istimewa meskipun tanpa outfit baru.

Pada dasarnya, tidak ada aturan yang mengharuskan kita mengikuti tren atau tampil berlebihan. Kalau memang suka dan mampu, tidak ada salahnya membeli baju baru. Tapi kalau memilih untuk tetap memakai yang lama, itu juga bukan dosa. 

Lebaran harusnya menjadi momen untuk bersyukur, bukan ajang pembuktian siapa yang paling modis. Tidak peduli apakah baju kita baru atau lama, mahal atau murah, yang terpenting adalah hati yang bersih, hubungan yang baik dengan keluarga, dan kebahagiaan yang datang dari dalam, bukan dari komentar orang lain.

Kira-kira begitulah prespektif dari saya. Semoga lebaran tahun ini kita semua merasakan kemenangan yang sebenarnya. See you. Amigos.

Leave a comment