Informasi Terpercaya Masa Kini

Sejarah Serabi Notosuman,Ikon Kuliner Legendaris Solo,Ternyata Awalnya Hendak Dibikin jadi Apem

0 11

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Serabi Notosuman Solo merupakan salah satu cemilan legendaris yang sudah menjadi ikon kuliner Kota Solo selama hampir satu abad. 

Namun, mungkin belum banyak yang tahu bagaimana asal-usul Serabi Notosuman Solo yang sudah eksis sejak 1923 ini.

Asal usul Serabi Notosuman ternyata bermula dari pasangan etnis Tionghoa, Hoo Ging Hok dan Tan Giok Lan, yang dengan tidak sengaja menciptakan resep serabi hingga kini dikenal luas di berbagai penjuru Indonesia.

Baca juga: Asal-usul Desa Makamhaji di Sukoharjo, Ternyata Ada Kisah Tragis di Baliknya

Kisah Awal Mula Serabi Notosuman

Nama Notosuman sendiri merujuk pada sebuah kawasan di Solo yang identik dengan serabi, dan di sinilah Serabi Notosuman pertama kali ditemukan.

Pada awalnya, usaha ini didirikan oleh pasangan Hoo Ging Hok dan Tan Giok Lan yang membuka gerai di Jl. Notosuman, yang kini berganti nama menjadi Jl. Moh Yamin.

Serabi Notosuman yang terkenal ini sudah berusia hampir satu abad, namun cita rasanya tetap memikat hingga hari ini.

Menariknya, Serabi Notosuman pertama kali diciptakan oleh Ny. Hoo Ging Hok, yang pada mulanya diminta oleh tetangganya untuk membuat apem untuk acara selamatan.

Apem buatannya sangat disukai hingga banyak tetangga yang memesan apem darinya.

Baca juga: Sejarah Angkringan atau Wedangan, Bukan dari Solo dan Jogja, Pencetusnya Justru Orang Klaten

Suatu ketika, seorang tetangga meminta agar apem tersebut dibuat dengan bentuk yang lebih pipih, dan tanpa disengaja, terjadilah perubahan tersebut.

Apem yang lebih pipih ini kemudian disebut serabi, dan ternyata serabi tersebut lebih diminati daripada apem yang biasa dibuatnya.

Penerus Warisan Kuliner Serabi Notosuman

Hoo Ging Hok dan Tan Giok Lan tidak hanya menciptakan serabi, namun juga mewariskannya kepada generasi berikutnya. Dua tempat yang kini memproduksi Serabi Notosuman di Jl. Moh Yamin, Solo, merupakan milik Lidia dan Handayani, keturunan dari pasangan tersebut.

Kedua tempat produksi ini terletak berdekatan, hanya beberapa langkah saja, dan masing-masing memiliki ciri khas.

Serabi Notosuman yang dijual oleh Lidia dikenal dengan sebutan “serabi bungkus hijau”, sementara serabi yang dijual oleh Handayani disebut “serabi bungkus oranye.”

Meskipun berasal dari resep yang sama, kedua varian Serabi Notosuman ini memiliki perbedaan dalam cara penyajian dan kemasan.

Pada awalnya, serabi disajikan sesuai bentuk aslinya setelah dimasak.

Baca juga: Sejarah Ciu Bekonang, Miras Legendaris dari Sukoharjo, Dulu Suguhan Wajib saat Pesta Rakyat

Namun, belakangan ini, Serabi Notosuman lebih sering disajikan dengan digulung dan dilapisi daun pisang sebelum dikemas dalam kotak karton, memberikan sentuhan yang lebih praktis dan menarik.

Varian Rasa Serabi Notosuman

Serabi Notosuman memiliki dua pilihan rasa yang menggugah selera, yaitu serabi orisinal dan serabi rasa cokelat.

Serabi orisinal menawarkan rasa gurih yang khas berkat penggunaan santan kental, sementara serabi rasa cokelat dilengkapi dengan taburan meses cokelat yang manis.

Tidak seperti serabi dari daerah lain, Serabi Notosuman tidak disajikan dengan kuah, menjadikannya unik di kalangan penganan serabi yang ada di Indonesia.

Proses pembuatan Serabi Notosuman cukup sederhana namun memerlukan keterampilan khusus.

 Adonan tepung beras, santan, gula pasir, garam, pandan, dan air dicetak dalam wajan kecil, kemudian ditutup hingga adonan mekar dan matang. Proses ini hanya membutuhkan waktu sekitar tiga menit, dan pengunjung dapat menyaksikan langsung pembuatan serabi yang menggugah selera ini di tempat penjualannya.

Keistimewaan Serabi Notosuman terletak pada bahan-bahan alami yang digunakan, seperti santan kental yang memberikan rasa gurih dan lezat.

Menariknya, Serabi Notosuman tidak mengandung bahan pengawet, sehingga serabi ini hanya dapat dinikmati dalam waktu 24 jam setelah dimasak.

Hal ini pun memastikan bahwa setiap serabi yang dijual selalu dalam kondisi segar dan nikmat.

(*)

Leave a comment