Beredar Citra Indonesia Memerah Padahal Masih Musim Hujan, Potensi Suhu Tinggi?
KOMPAS.com – Unggahan yang menunjukkan citra Indonesia tampak memerah saat musim hujan masih berlangsung pada awal Februari 2025, viral di media sosial X.
Berdasarkan unggahan akun @zak****, Selasa (4/2/2025), sebagian besar wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diliputi citra berwarna merah tua.
Citra yang sama juga terlihat di wilayah Sumatera bagian tengah, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian tengah dan selatan, serta sebagian kecil Papua.
Sementara itu, citra Kalimantan dan Sulawesi bagian utara, Maluku, serta sebagian besar Papua berwarna oranye cenderung kuning.
Baca juga: Januari Terasa Panas, Benarkah Puncak Musim Hujan Sudah Berakhir?
Beredarnya citra wilayah Indonesia yang memerah direspons beberapa warganet yang menyebut, suhu pada awal Februari 2025 memang terasa panas atau gerah.
Sebagian warganet juga mengaku, wilayah tempat tinggalnya hanya diguyur gerimis atau hujan dalam waktu singkat.
“Udah pergantian musim kah min? Bbrpa hari dah gk hujan,” tanya seorang warganet melalui akun @g_naa***, Selasa (4/2/2025).
Terkait hal itu, apa yang menyebabkan citra Indonesia berwarna merah saat musim hujan 2025?
Baca juga: 2024 Jadi Tahun Terpanas di Indonesia, Apakah Suhu Panas Berlanjut ke 2025?
Penjelasan BMKG soal citra Indonesia tampak memerah
Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardani mengatakan, citra yang beredar di media sosial adalah gambaran suhu udara permukaan di Indonesia pada awal Februari 2025.
Ia menjelaskan, citra dapat berwarna merah tua karena suhu di sebagian wilayah mencapai 25-34 derajat Celcius.
Meski begitu, kondisi tersebut menunjukkan keadaan yang normal karena cuaca panas bisa saja terjadi di tengah musim hujan.
“Cuaca panas mungkin saja terjadi pada saat siang hingga sore hari di mana terjadi proses pemanasan (konveksi) yang dapat memicu pertumbuhan awan hujan setelahnya,” ujar Ida kepada Kompas.com, Selasa (4/2/2025).
“Secara umum hujan masih berpotensi terjadi saat malam hingga dini hari di wilayah dengan suhu maksimum pada siang hingga sore hari,” tambahnya.
Baca juga: Warganet Mengeluh Sudah Hujan tapi Cuaca Masih Panas, Ini Penjelasan BMKG
Terpisah, Analis Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah, Zauyik menjelaskan, citra Indonesia, khususnya Jawa Tengah, dapat terlihat merah dan intensitas hujan menjadi berkurang karena faktor siklon tropis Taliah.
Siklon tropis tersebut berada di selatan Pulau Jawa tepatnya Samudera Hindia yang bergerak ke barat.
Zauyik menjelaskan, kemunculan siklon tropis Taliah menyebabkan massa udara basah dari Monsun Asia yang memasuki Jawa Tengah lebih banyak menuju ke wilayah siklon tropis.
“Sehingga Jawa tengah kurang hujannya, selain berkurangnya hujan juga dengan angin yang kencang di beberapa wilayah Jawa tengah,” jelasnya kepada Kompas.com, Rabu (5/2/2025).
Selain faktor siklon tropis, wilayah Jawa Tengah dilanda cuaca panas karena banyaknya pancaran sinar Matahari yang membuat suhu menjadi naik.
Meski cuaca panas terjadi, Zauyik menegaskan, suhu tinggi yang terjadi akhir-akhir ini tidak setinggi saat musim kemarau.
Baca juga: Cuaca Jawa Timur Panas di Saat Musim Hujan, sampai Kapan Terjadi?
Cuaca panas bukan tanda musim kemarau
Meski Indonesia mengalami cuaca panas di tengah musim hujan, Ida dan Zauyik menyampaikan, sebagian besar wilayah indonesia belum memasuki musim kemarau.
Ida menjelaskan, baru 3 persen zona musim di wilayah Indonesia yang mengalami musim kemarau, sementara 81 persen lainnya masih memasuki musim hujan.
“16 persen (zona musim) lainnya merupakan wilayah non-ZOM (zona musim),” imbuhnya.
Ia menjelaskan, wilayah Indonesia akan dilanda sejumlah fenomena yang berpotensi meningkatkan curah hujan secara signifikan dalam beberapa waktu ke depan.
Baca juga: Daftar Wilayah yang Diprediksi Alami Suhu Panas dan Curah Hujan Tinggi pada 2025
Fenomena tersebut adalah Monsun Asia yang masih menjadi faktor utama penyebab hujan di wilayah Indonesia yang diperkirakan aktif hingga April dasarian ke-3 2025.
Selain Monsun Asia, BMKG juga memperkirakan, akan muncul Monsun Australia mulai April dasarian ke-I hingga pertengahan 2025.
“Faktor lainnya, yaitu fenomena La Nina lemah, MJO, dan gelombang atmosfer mendukung peningkatan dalam potensi terjadinya hujan signifikan di beberapa wilayah Indonesia,” pungkas Ida.
Baca juga: BMKG Prediksi Indonesia Alami Suhu Lebih Panas pada 2025, Berikut Wilayah yang Akan Mengalaminya