Informasi Terpercaya Masa Kini

Presiden Assad Tumbang, PM Suriah Siap Kerja Sama dengan Pemberontak

0 22

Setelah 24 tahun berkuasa, rezim Presiden Bashar al-Assad “resmi” berakhir. Pada Minggu (8/12), komando militer Suriah mengumumkan era pemerintahan Assad telah runtuh menyusul serangan pemberontak yang mengguncang negara tersebut.

Di tengah kekacauan politik ini, Perdana Menteri Suriah Mohammad Ghazi al-Jalali menyatakan kesiapannya untuk mendukung keberlanjutan pemerintahan dan bekerja sama dengan oposisi.

“Kami siap untuk ‘mengulurkan tangan’ kepada oposisi dan menyerahkan fungsi pemerintahan kepada pemerintah transisi,” ungkap Jalalu dalam pernyataan video yang dirilis Associated Press.

Meski situasi negara sedang genting, Jalali berkomitmen tetap bekerja.

“Saya masih berada di rumah saya, saya tidak pergi ke mana-mana, karena saya bagian dari negara ini,” ujarnya. Ia juga mengimbau warga untuk tidak merusak properti publik.

Namun, Jalali tidak memberikan komentar terkait laporan bahwa Presiden Assad telah meninggalkan Suriah. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Uni Emirat Arab, negara tempat keluarga Assad memiliki sejumlah aset properti di Dubai.

Pemberontak Umumkan Era Baru Suriah

Kelompok oposisi bersenjata di Suriah pun bersuka cita, menyatakan berakhirnya ‘era gelap’ pemerintahan Partai Baath yang berlangsung selama lima dekade.

“Hari ini, 12-8-2024, kami mengumumkan berakhirnya 50 tahun penindasan di bawah rezim Baath, dan dimulainya era baru bagi Suriah,” ungkap pemberontak, seperti dikutip dari Guardian.

Pagi di Damaskus diwarnai selebrasi besar-besaran. Rekaman video menunjukkan pemberontak berseragam melepaskan tembakan ke udara sambil meneriakkan “Allahu Akbar”.

Di jalanan ibu kota, warga menaiki tank, bernyanyi, dan berkumpul merayakan jatuhnya rezim Assad.

Konflik yang bermula pada 2011 itu telah merenggut hampir setengah juta jiwa dan mengakibatkan separuh dari total populasi Suriah, sebanyak 23 juta orang, mengungsi.

Jutaan warga melarikan diri ke negara-negara tetangga seperti Yordania, Turki, Irak, dan Lebanon, serta ke Eropa untuk berlindung.

Konflik ini sempat terhenti selama bertahun-tahun. Namun, pada pekan lalu para pemberontak kembali muncul dari basis-basis mereka di Idlib, dan merangsek maju setelah memenangkan beberapa pertempuran jalanan yang tak kunjung usai sejak 13 tahun lalu.

Leave a comment